Cinta itu sederhana, kitanya saja yang rumit. Kira-kira begitu bunyinya.
Asya mengembuskan napas pelan, selepas perginya Topan dan Gempa yang tadi datang, tak terasa kini sudah malam, di mana perasaan Asya kembali tak keruan, mengingat foto cantik seorang perempuan yang seharusnya tidak disimpan. Benar, kan?
Atau salah?
Karena lelaki juga punya hak untuk menggemari idolanya. Karena bukan hanya kaum Hawa yang bisa mengidolakan pria-pria kenamaan hingga posternya dipajang bahkan suami pun ada yang mengizinkan, seperti para penggemar Sehun atau mungkin yang mengidolakan pemeran Aldebaran, misalnya?
Ya, tapi ... perasaan Asya menentang apa kata logika.
Apalagi ini seseorang sejenis Guntur. Guntur, lho, ini! Yang Asya kira idolanya hanyalah barisan para nabi, bukan manusia apalagi bergender wanita. ……
Waiting for the first comment……
Please log in to leave a comment.