Tak lama Rian keluar sudah berganti pakaian dari seragam sekolah ke kaos biasa dan celana pendek sambil membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dan cemilan dalam toples kemudian diletakkannya di atas meja yang berada di sebelah Mily. Mily hanya diam saja sejak tadi merasa deg-degan juga sedikit cemas kalau Rian akan marah padanya.
"Silahkan diminum" Rian membuyarkan lamunan Mily.
"iya, terimakasih" Mily meminum minuman yang dibawa Rian tadi.
"bagaimana sekolahnya?" Rian membuka pembicaraan.
"alhamdulillah lancar" kata Mily.
"gak ngajak Vita?"
"nggak, tadi aku gak cerita ke Vita kalau aku mau kesini"
"owh. kamu cerita apa ke Ahmad?" pertanyaan Rian mengagetkan Mily.
"ehmm, aku cuma minta bantuan mas Ahmad saja kok," kata Mily
"aku minta maaf ya.." sambung Mily merasa bersalah.
"tadi Ahmad memata-matai aku saat istirahat" kata Rian dan Mily menunduk.
"aku tidak suka kamu minta bantuan Ahmad seperti itu, bikin aku tidak nyaman dan illfeel tau gak." sambung Rian sedikit jengkel dan menahan emosi.
"aku minta maaf, aku janji gak akan begitu lagi." kata Mily. Mily hanya bisa meminta maaf karena Mily tau perbuatan yang sudah dilakukan itu salah.
"sebenarnya aku hanya ingin tahu kebenarannya saja, apakah kamu punya pacar lain atau tidak, hanya itu saja. karena gosip yang aku dengar kamu punya pacar selain aku." terang Mily.
"kamu percaya dengan gosip itu?" tanya Rian dan Mily mengangguk karena Mily mendapatkan gosip itu dari orang yang bisa Mily percaya.
"percaya sama aku, aku gak akan duakan kamu, atau tiga kan kamu," kata Rian meminta Mily percaya padanya.
"tapi kata mas Ahmad, kamu punya pacar selain aku, gak mungkin kan kalau mas Ahmad bohong sama aku." kata Mily.
"kamu lebih percaya sama Ahmad atau sama aku?" kata Rian.
"entahlah, aku gak tau harus bagaimana" tak terasa Mily meneteskan air mata, namun Mily segera mengalihkan pandangannya dan menghapus air mata yang menetes itu agar Rian tak melihatnya.
"please, percaya sama aku," Rian berharap Mily percaya padanya.
"baiklah, aku percaya sama kamu," dalam hati Mily masih ragu.
Mily dan Rian bercerita banyak mengenai banyak hal hingga tak terasa sudah 30 menit Mily berada di rumah Rian, meskipun hanya di teras saja tetep saja Mily merasa sungkan. "mas, aku pamit pulang ya, sudah hampir jam setengah tiga soalnya." Mily mengakhiri pembicaraan dan berpamitan.
"salam buat ibu kamu ya" sambung Mily.
"iya, aku antar ke depan ya" kata Rian, padahal Mily berharap diantar sampai ke rumah. Mily dan Rian berjalan ke depan, Rian menemani Mily menunggu angkutan umum.
Setelah angkutan umum datang, Mily berpamitan pada Rian. Rian membayarkan ongkos Mily kepada supir angkutan umum. "Terima kasih ya" kata Mily.
"iya, hati-hati" kata Rian.
Selama perjalanan pulang, Mily merenungkan apa yang dikatakan Rian, “mungkin aku harus percaya padanya, mungkin apa yang aku baca di f*******: tidak seperti yang aku pikirkan, mungkin aku yang terlalu cemburu, cemburu buta. Hahh, ya sudahlah anggap saja semua yang aku lihat itu tidak pernah terjadi.” Gumam Mily dalam hati.
Sejak Rian menegur mas Ahmad dan juga Mily, mas Ahmad tidak lagi memata-matai Rian. Hubungan Mily dan Rian berlangsung dengan baik, karena Mily mulai tidak menghiraukan apa yang dia lihat di f*******:, meski terkadang rasa cemburu itu selalu menghampiri, tapi Mily berusaha bersikap bodo amat apa yang dia lihat di f*******:. Sesekali Mily dan Rian pergi bersama walaupun hanya keliling kota dan kemudian mengantarkan Mily pulang ke rumahnya.
Beberapa bulan kemudian Mily mendapat kabar dari Vita kalau Rian sedang sakit dan harus dioperasi. Mily pun langsung menghubungi Rian.
"assalamu'alaikum,"
"wa'alaikum salam,"
"sayang, aku dengar kamu sedang sakit, benar tidak?" tanya Mily.
"iya, tidak apa-apa, sakit sedikit." kata Rian.
"kamu sakit apa? bagaimana kata dokter?" tanya Mily yang khawatir dengan keadaan Rian.
"usus buntu" kata Rian singkat.
"owh, terus bagaimana?" tanya Mily
"harus dioperasi" jawab Rian
"Ya Allah.." keluh Mily.
"semoga operasinya lancar ya.aamiin" sambung Mily berdoa untuk kelancaran operasi Rian.
"apa sakitnya parah hingga harus dioperasi?" gumam Mily dalam hati, karena Mily belum tahu apa-apa soal penyakit dan pengobatannya, sehingga Mily khawatir dengan keadaan Rian.
"semoga cepat sembuh ya, semangat." Mily memberikan semangat kepada Rian.
"aamiin. terimakasih ya" kata Rian.
4 hari Rian dirawat di Rumah Sakit, tapi Mily belum bisa membesuk Rian di Rumah Sakit. Mily berencana mengajak Vita untuk membesuk Rian di Rumah Sakit. "semoga besok hari Minggu Vita mau menemaniku ke Rumah sakit untuk membesuk Rian" gumam Mily dalam Hati.
Hari minggu telah tiba, Mily sudah menyelesaikan sarapan pagi nya. Mily segera menghubungi Vita dengan HP nya.
"assalamu'alaikum"
"wa'alaikumsalam, Mily"
"Vit, hari ini kamu ada acara tidak?" tanya Mily.
"tidak ada, Mily. lha kenapa?" Vita balik tanya ke Mily.
"temani aku menjenguk Rian yuk, Vit.. bisa kan?"
"jam berapa?" tanya Vita.
"jam besuk nya kalau gak salah mulai jam 11.00 WIB, nanti aku ke rumahmu sekitar jam 10.00 WIB ya" kata Mily.
"oke, Mily. aku bersih-bersih rumah dulu ya."
"iya, Vit. terima kasih ya. aku juga mau bersih-bersih rumah dulu. sudah ya, assalamu'alaikum." Mily mengakhiri percakapannya dan setelah Vita membalas salamnya Mily menutup panggilannya.
Mily mulai membersihkan halaman rumah, menyapu lantai rumah, dan tak lupa mencuci sepatu yang biasa dipakai ke sekolah. waktu sudah menunjukkan jam 09.45 WIB, Mily bergegas untuk mandi dan bersiap-siap memakai pakaian yang cocok. Mily sempat bingung mau mengenakan pakaian apa, dan akhirnya Mily memilih mengenakan baju putih lengan pendek dengan celana jeans panjang dan jaket jeans. Mily segera mengambil tas dan bingkisan buah yang akan diberikan kepada Rian. Mily mulai menyalakan motor bebek milik Ayah nya. Mily memang belum diijinkan Ayahnya untuk punya kendaraan sendiri jadi setiap Mily akan bepergian selalu menggunakan motor milik ayahnya. sambil menunggu mesin motor panas Mily berpamitan kepada Ayahnya, tak lupa Mily memakai sendal slop dan helm untuk keamanan.
Mily mulai melajukan motor bebek milik ayahnya itu menuju ke rumah Vita terlebih dahulu. Sesampainya di rumah Vita, Mily mematikan motornya dan memarkirkan di depan rumah Vita. Vita yang mengetahui kedatangan Mily langsung keluar menyambut Mily, Vita meminta Mily untuk masuk ke rumah menunggu sebentar karena Vita belum siap-siap. Mily pun duduk di ruang tamu menunggu Vita bersiap-siap dan berganti pakaian. Vita akhirnya selesai berganti baju, Mily dan Vita berpamitan dengan ibundanya Vita tak lupa mencium punggung tangan ibundanya Vita. Mily mulai menyalakan mesin motor, Vita pun naik motor yang sudah dinyalakan Mily, Mily langsung melajukan motor yang dikendarai nya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan tiba-tiba Mily menabrak kendaraan umum yang berhenti di dekat perempatan jalan raya. Mily tidak mengetahui kapan kendaraan umum itu berhenti, sehingga Mily tidak bisa menghindarinya. Vita dan Mily terjatuh seketika, beruntung tidak ada luka pada Vita, dan Mily hanya mengalami sedikit lecet di siku bagian kiri, namun anehnya jaket yg dipakai Mily tidak ada yang sobek. Motor yang dikendarai Mily mengalami bengkok pada footstap atau pijakan kaki bagian kiri karena motor oleng ke sebelah kiri, sehingga mengganggu persenellen atau untuk memindah gigi motor, beruntung ada orang baik yang menolong Mily dan Vita, dan memperbaiki footstap motor Mily. Setelah footstap motor sudah diperbaiki posisinya dan motor bisa kembali menyala, tak lupa Mily mengucapkan terima kasih kepada orang baik yang sudah membantunya. Mily dan Vita melanjutkan perjalanan menuju ke rumah sakit umum untuk membesuk Rian.
Waiting for the first comment……
Please log in to leave a comment.