Rian tiba-tiba menarik tangan Mily diarahkan ke pinggangnya, kemudian kedua tangan Rian memeluk Mily. Mily hanya diam dan pasrah, dalam hati berkata 'dosakah ini?'. Rian pun melepaskan pelukannya sembari tersenyum dan Mily pun membalas senyum dengan menundukkan kepalanya karena malu.
"sebenarnya aku tidak mau dicium karena selain takut, itu adalah prinsipku." kata Mily jujur.
"owh, ya sudah tidak apa-apa" kata Rian.
"maaf ya" kata Mily, dan Rian hanya tersenyum.
waktu menunjukkan jam 10.30 WIB, Rian berpamitan pulang. Rian dan Mily beranjak dari tempat duduk nya, saat Mily hendak berjalan menjauhi kursi dengan maksud memberikan kesempatan Rian untuk berjalan, tiba-tiba Rian menarik tangan Mily dan memeluk Mily. Mily terdiam dalam pelukan dan mulai membalas pelukan dari Rian. Rian melepas pelukannya dan berjalan bersisian dengan Mily sementara tangan Rian merangkul pundak Mily menuju teras rumah. Rian pun mulai memakai helmnya dan menyalakan kuda besinya yang terlihat gagah dan cocok dengan postur tubuh Rian, tak lama Rian berpamitan kemudian melajukan motornya hingga tak terlihat dari pandangan Mily.
hari berganti dengan hari, bulan berganti dengan bulan, hubungan Mily terjalin sudah cukup lama. Mily terkadang merasa bingung sekaligus heran karena Rian pernah bahkan sering meminta 'break' selama 1 minggu pada hubungan ini dan setiap Mily bertanya alasannya pasti Rian jawab "tidak apa-apa, lagi pengen 'break' aja". "Apa mungkin Rian bosan dengan hubungan ini ya?" gumam Mily. Akhirnya Mily mengikuti saja yang diinginkan Rian itu.
"Mily, bagaimana hubungan kamu dengan Rian?" tanya Vita sahabat Mily.
"bagaimana apanya Vit?" Mily tanya balik ke Vita.
"kamu masih bersama Rian?"
"iya masih Vit"
"cie cie awet nih, semoga langgeng ya" Vita menggoda Mily.
"Vit, sebenernya beberapa minggu yang lalu Rian pernah minta 'break' selama 1 minggu, tapi aku masih nggak paham apa maksudnya jadi aku asal bilang 'iya'. kata Mily.
"padahal 'break' dalam bahasa Inggris kan artinya istirahat kan kalau nggak salah, tapi dalam hubungan masa ada istilah 'break'" lanjut Mily bercerita kepada Vita.
"mungkin dia bosen kali Mily." kata Vita.
"Ya aku sih nggak tahu pasti, Vit" ucap Mily.
"sekarang masih break Mily?" tanya Vita.
"sudah enggak sih, ini sudah berlanjut." kata Mily.
Pada suatu hari ketika Mily selesai mengerjakan tugas sekolah tiba-tiba Rian SMS Mily,
“Aku bingung harus pilih yang mana?” kata Rian.
“Maksud kamu apa? Mengapa kamu bicara begitu? Cewek yang kamu maksud itu siapa?” tanya Mily yang terkejut dengan kata-Rian.
“Aku bingung pilih kamu atau Isna” kata Rian.
“Ya sudah, kalau kamu memang lebih suka dengan Isna pilih saja dia” kata Mily dengan agak kecewa.
“Baiklah aku pilih kamu, lagi pula hubungan kita sudah berlangsung lama kan” kata Rian.
“Tapi kamu memilih aku tidak terpaksa kan?” tanya Mily.
“Nggak kok” jawab Rian.
"Bagus lah, lega dengernya" kata Mily.
Beberapa hari kemudian, ketika membuka f*******:, Mily sebenarnya hanya iseng melihat beranda f*******: milik Rian. Mily terkejut saat melihat beranda f*******: Rian, dalam beranda f*******: Rian menulis di dinding Facebooknya Isna, “Kenapa honey?”. Pada saat itu kepercayaan Mily kepada Rian mulai goyah, dan Mily nggak menyangka Rian akan berkata seperti itu kepada Isna. Setelah menelusuri status-status Rian ternyata Rian sering menuliskan angka 19 diakhir kalimat statusnya, entah apa maksudnya. Akhirnya Mily terfokus membaca sebuah nama yang berawalan 19 dalam bahasa Inggris ‘nainteen', ya nama lengkap Isna dengan awalan yang hampir mirip dengan angka 19.
"Mas, maksud kamu apa menulis di dinding Isna dengan panggilan ‘honey’” tanya Mily dengan penasaran. Secara tidak langsung hati Mily sudah tergores.
“Tidak apa – apa, aku sudah biasa memanggil cewek dengan ‘honey’!” kata Rian.
“Owh, ya sudah.” kata Mily hanya pasrah tapi bingung antara percaya atau tidak.
“Kenapa? Marah? Marah aja” Kata Rian dengan sedikit cuek.
Beberapa jam kemudian, Isna mengubah status di f*******:-nya menjadi ‘berpacaran’. Status Rian pun juga diubahnya menjadi 'berpacaran'. Selain itu, Mily melihat beberapa komentar dari teman – teman Rian di f*******:, diantaranya: “Tapi jangan lupa sama ceweknya dunk. Jaga Isna. Jangan mengecewakan dia yah.”; “jangan selingkuh, Yan!”; dan “semoga awet sama Isna ya”.
Akhirnya Mily memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada Rian.
“Mas Rian, sebenarnya hubungan kamu dengan Isna itu apa sih?” tanya Mily.
“Nggak apa – apa, Isna itu kakak kelasku dulu, Kamu jangan cepat curiga dan cemburuan gitu” kata Rian. Tapi Mily masih belum percaya dengan jawaban Rian. Mily hanya terdiam dan berpikir, “Mungkinkah Rian nggak jujur sama aku? Aku harap Rian nggak selingkuh dan nggak menduakan aku. Apakah mungkin masalah ini adalah cobaan / ujian dari Tuhan untuk menguji kesetiaanku kepada Rian?”.
Semua yang tertulis di f*******: itu membuat kepercayaan Mily kepada Rian semakin berkurang, tapi Mily tetap bersabar dan berusaha untuk percaya dengan Rian demi menjaga hubungannya dan menganggap semua masalah itu adalah cobaan dari Tuhan untuk menguji kesetiaannya.
Pada akhirnya Mily meminta bantuan kakak sepupunya Ahmad dan Surya yang berteman dengan Rian untuk memata-matai Rian dan mencari tau soal pacar Rian yang lain. Saat di rumah mas Ahmad, "Mas Ahmad, aku boleh minta tolong gak?" Tanya Mily dengan sedikit manja.
"Minta tolong apa?" Jawab Ahmad.
"Hmm.. Minta tolong itu untuk memata-matai si Rian, bener gak sih dia punya pacar selain aku?" Kata Mily.
"Aku sudah pernah bilang kan, dia itu terkenal playboy di sekolah, pacarnya banyak" Jawab Ahmad dan Mily hanya terdiam.
"Kamu sudah cinta banget ya sama Rian?" Sambung mas Ahmad dan Mily hanya menanggapinya dengan senyum manis.
"Cie-cie ada yang jatuh cinta nih," goda mas Ahmad.
"Iih, apaan sih, mas. Jadi gimana nih mau bantuin aku gak?" Kata Mily.
"Iya iya baiklah, aku akan mata-matai Rian untuk kamu, sudah puas?" Kata mas Ahmad dengan terpaksa.
"Yeay, terimakasih mas" Ucap Mily dengan senang hati. Mily pun berpamitan pulang, kemudian menuju ke rumah mas Surya.
Waiting for the first comment……
Please log in to leave a comment.