90 Hari Selingkuh
READING AGE 18+
"Aku lelah menjadi orang lain hanya agar dunia merasa aku cukup beruntung. Aku bahkan lupa, bagian mana dari diriku yang benar-benar milikku." — Karenina
.
Sembilan puluh hari menuju sebuah perhelatan agung, Karenina menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak sedang bersiap menjadi seorang istri, ia sedang dipoles untuk menjadi aset.
.
Aidan—pria yang oleh dunia dianggap sebagai definisi kesempurnaan dan pewaris otoritas dinasti—telah membangun sebuah sangkar emas yang begitu megah hingga Karenina lupa bagaimana cara mengepakkan sayapnya sendiri.
.
"Kamu itu hanya perlu tetap indah dan tenang. Biarkan aku yang merancang seluruh peta hidup kita." — Aidan
.
Lalu muncul Bintang.
.
Seorang petualang yang mencintai perjalanan melebihi tujuannya. Ia adalah antitesis dari segala kekakuan yang mengepung Karenina. Baginya, Bintang adalah personifikasi dari kebebasan yang hilang. Bersamanya, Karenina berani melanggar protokol—sekadar untuk mengecap rasa sepotong ayam cepat saji tanpa rasa bersalah. Bersama Bintang, ia merasa menemukan celah pintu yang terbuka.
Namun, kebebasan itu tidak pernah datang dengan cuma-cuma. Bintang memang meminjamkan sayap, tapi pria itu tidak datang sendirian. Ia membawa beban rahasia di punggungnya.
.
"Aku tidak punya apa-apa, Nin. Selain jalanan panjang dan sebuah kamera tua. Tapi setidaknya, bersamaku, kamu tidak perlu mengenakan topeng siapa pun." — Bintang
Perselingkuhan ini bukan tentang ranjang. Ini adalah sebuah pemberontakan hati yang sedang sekarat—perjalanan panjang untuk mengeja ulang makna cinta dan menemukan kedamaian yang jujur. Karena pada akhirnya, tak ada hati yang benar-benar bersalah, sebagaimana tak ada hati yang sepenuhnya suci. Setiap hati punya luka, tapi setiap hati juga punya penawarnya sendiri.
.
Dan Karenina... ia menemukan arti itu dalam langkahnya; bermula dari dinginnya dinding beton di Jakarta, hingga ke heningnya lembah Bhutan, kemegahan Himalaya, dan sakralnya cahaya purnama di Taj Mahal.
Unfold
Samudra Hindia
Di atas geladak kapal pesiar yang membelah ombak biru, Bintang berdiri menatap cakrawala yang tak berujung. Kamera di tangannya kini kembali aktif, merekam setiap sudut keindahan laut yang ia lalui. Ia telah kembali pada jati dirinya yang asli: seorang pengembara, seorang yang merekam kehidupan dalam perjalanan……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……