(Bukan) Cinta yang Diinginkan
READING AGE 18+
Ini bukan spin-off atau sequel, melainkan cerita baru.
Cast:
Rakha Cipta Wiratmodjo
Ayu Saras Magdalena
.
.
.
Rakha itu dulu gendut, cupu dan pakai kacamata sehari-harinya. Kulitnya juga agak gelap, jauh dari kata menarik intinya. Yang menonjol darinya hanya karena pintar saja. Eh, ada satu lagi sebenarnya, yaitu tajir melintir. Ya... Rakha itu berasal dari keluarga kaya raya, namun teman di sekolahnya tak mengetahui hal itu. Tak mau tahu tentang kehidupan si cupu jelek yang selalu ranking satu paralel si sekolah itu.
Ayu adalah primadona dulunya di sekolah. Banyak yang menyukainya, termasuk Rakha sang kakak kelas yang berada dua tingkat di atasnya. Diam-diam, Rakha pernah menyatakan cinta padanya dan tentu saja Ayu tolak mentah-mentah.
Lalu, bagaimana setelah beberapa tahun kemudian keduanya bertemu pada usia mereka yang sudah dewasa?
Rakha telah jauh berbeda saat ini. Bukan Rakha yang seperti dulu lagi, hingga Ayu pun tak mengenali sosok lekaki yang merupakan kakak kelasnya itu. Tak sekedar tinggi, Rakha pun memiliki tubuh bak atletis. Tak lagi gelap kulitnya. Dia terlalu tampan saat ini. Bertemu dengan Ayu yang terlibat kecelakaan dengan calon istrinya, seketika ingat akan masa lalu waktu masih sekolah dulu.
"Lo kok pede banget nembak gue? Nggak ngaca? Nggak sadar diri banget. Lo itu... bukan.tipe.gue. Jauhhhhhhhhh! Coba lo ambil kaca dulu sana! Hitam, gendut, jelek, cupu, berani-beraninya nembak gue?" Masih terekam jelas di benaknya Rakha, bagaimana kata-kata Ayu saat menolaknya dulu. Tanpa Rakha tahu, kenapa dulu Ayu tampak begitu sombong dan caper di sekolah.
Kehilangan calon istrinya, Rakha memaksa Ayu menggantikan posisi calon istrinya tersebut. Jika tidak, akan dia perpanjang urusan kecelakaan dengan mengancam Ayu akan dimasukkan ke dalam bui. Rakha yang dituntut keluarganya agar segera menikah, dan ingin Ayu bertanggung jawab karena membuat calon istrinya meninggal dunia.
Unfold
Ayu’s PoV
“Maafin aku, Mas. Aku mengaku bersalah sama kamu.” Api harus dilawan dengan air. Tak akan aku membahas yang bisa membuatnya emosi. Entah kapan waktu yang tepat…
Lelaki yang sedang membersihkan lukaku itu, tak menyahuti ucapanku. Dia memasang plester, lalu merapihkan alat P3K.
<……Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……