DENDAM SANG CEO
READING AGE 18+
Lamaran itu pun menjadi batal karena Pak Bram kena serangan jantung usai Alex tetap memilih Riva untuk menjadi calon istrinya. Alex kemudian membawa papinya ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.
Aku melepaskan jas dan membuang ke bangku. Kemudian menjambak rambut sambil tertunduk lesu. Perasaan sedih, cemas dan penyesalan berkecamuk di dalam d**a. Beberapa saat kemudian aku berdiri, dengan mata yang terlihat sembab.
"Tenang Bro! Papi sudah ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini!" seru Pras yang melihat kepanikanku.
"Coba tadi Gue ga ngotot, pasti Papi sekarang baik-baik saja," ucapku penuh sesal.
"Kenapa pilih Riva sih, emang lu kenal?" tanya Pras ingin tahu.
"Sebenarnya ...." Aku pun menceritakan awal pertemuan dengan Riva dan tidak terima dengan sikapnya. Apalagi saat lamaran tadi tidak melihat kehadirannya. Aku merasa tertantang untuk mendapatkan gadis sombong itu.
Pras tampak mendengarkan dengan seksama. Kemudian ia menghela nafas panjang dan berpendapat, "Ga semua wanita itu silau dengan harta Lex dan ga semua cewek terpesona dengan ketampanan. Contohnya Riva, kalau menurut Gue, dia ga salah dalam hal ini. Ia mempunyai hak untuk menolak perjodohan itu."
Aku tidak menjawab dan hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi dan itu semua karena keegoisanku.
"Kita bantu doa, agar Papi bisa ngelewatin masa kritis yuk!" ajak Pras ketika mendengar suara azan sayup-sayup.
Aku mengangguk dan segera memanggil Boy untuk stand by menjaga papi. Kemudian aku dan Pras segera mencari mushola.
Malam kian larut, tetapi papi belum juga sadarkan diri. Dari jendela pintu ruang ICCU, kumelihat orang yang sangat kusayanginya itu terbaring lemah. Dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya.
"Pi bangun, Pi ! maafin Alex," lirihku dengan mata yang memancarkan ketakutan akan kehilangan. [Jika sesuatu terjadi dengan Papiku, kau harus membayarnya dengan mahal Riva,] gumamku sambil mengepalkan tangan menahan amarah
Unfold
Yura tidak terima jika dirinya dicoret dari ahli waris keluarga Taka dan seluruh harta warisan dilimpahkan ke putra tunggalnya Riu. Wanita itu sangat marah sekali karena ia tidak lagi menjadi Queen of Asia. Ia kemudian melakukan protes kepada ayahnya Tuan Taka.
“Papah tidak akan merubah keputusan itu Yura. Engkau telah……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……