The Mistress of Money Laundering (Ratu Pencuci Uang)
READING AGE 18+
Pagi ini minum cokelat hangat di Swiss, sorenya belanja tas limited edition di Paris, dan besoknya ia sudah duduk manis beramal di panti asuhan. Itulah hidup Brianna Anindita.
.
Bagi jutaan pengikutnya, Brie adalah influencer papan atas dengan hidup sempurna—cantik, kaya raya, dan berhati malaikat. Namun, tidak ada kemewahan yang datang secara gratis.
.
Dulu, Brie hanyalah gadis idealis yang pulang membawa gelar luar negeri demi membalas budi Ibunya, seorang pensiunan guru, dan Ayahnya, pemilik toko buku tua yang telah banting tulang membiayai sekolahnya hingga ke luar negeri. Namun hati Brie hancur saat kenyataan hanya memberinya kursi teller bank dengan gaji pas-pasan. Di titik terendah itulah, Baskara datang menawarkan dunia gelap di mana uang bukan lagi masalah.
.
Kini, Brie adalah The Mistress of Money Laundering.
.
Akuntan bayangan yang "membersihkan" triliunan rupiah uang korupsi pejabat. Tapi beban terbesarnya bukan hanya hukum, melainkan kebohongan di depan kedua orang tuanya. Tumbuh besar dengan ajaran hidup jujur dan prinsip integritas dari orang tuanya, Brie kini terpaksa bersandiwara hebat.
.
Orang tuanya sangat bangga, mengira putri mereka sukses besar lewat karier halal sebagai pengusaha skincare dan influencer sukses. Brie harus tetap tersenyum dan menahan sesak saat sang Ayah memuji keberhasilannya dengan mata berbinar bangga, padahal setiap rupiah yang ia berikan untuk kenyamanan masa tua mereka adalah uang panas yang berlumuran dosa.
.
Setiap donasi adalah kamuflase, dan setiap senyum di kamera adalah cara menyembunyikan ketakutan yang mencekik. Brianna memberikan orang tuanya surga dunia, sembari menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah saksi kunci yang nyawanya bisa terancam kapan saja. Jangan tertipu dengan apa yang kamu lihat di layar. Karena hidup yang paling diimpikan banyak orang ini, sebenarnya adalah penjara paling menyiksa bagi Brianna.
Unfold
Brie masuk ke apartemennya dengan gerakan cepat, nyaris terburu-buru. Sebelum membanting pintu dengan kasar hingga suaranya menggema di lorong sunyi, ia menyempatkan diri menoleh ke belakang, memastikan bayangan Genta tidak benar-benar mengikutinya sampai ke depan unit. Napasnya memburu, ada rasa sesak yang tertinggal di dadanya.
……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……