Dermaga Air Mata istri bercadar
READING AGE 18+
"Saat kesabaran seorang istri mencapai batas tertingginya, Allah menghadirkan tempat teduh yang tak pernah ia duga."
Selama lima tahun, Amina hidup dalam penjara tak kasat mata. Sebagai seorang muslimah bercadar yang taat, ia menganggap pengabdian kepada suaminya, Ethan, adalah jalan menuju surga. Namun, Ethan—sang mualaf bule yang ia cintai—ternyata hanyalah badai yang menghancurkan hidupnya.
.
Tanpa uang, tanpa teman, dan dipisahkan dari anak-anaknya, Amina hanya menerima hinaan, tamparan, dan tuduhan gila setiap hari. Puncaknya, di suatu malam yang buta di tengah dinginnya kota asing, Ethan menjatuhkan talak dan mengusirnya ke jalanan hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh. Di bawah guyuran hujan deras yang membasuh cadarnya, Amina berjalan tanpa arah.
.
Di titik nadir keputusasaannya, saat air matanya telah mencapai puncak, ia melangitkan satu doa: "Ya Allah, tunjukkan aku jalan pulang."Doa itu dijawab melalui kehadiran Arslan.Seorang atlet pegulat profesional asal Dagestan yang sedang meniti karier di Eropa.
.
Arslan adalah pria yang hidup dalam disiplin baja, pendiam, dan sangat menjaga adab terhadap wanita. Ia tidak mencari cinta, ia hanya menjalankan prinsip imannya untuk melindungi seorang muslimah yang teraniaya di depan matanya. Pertolongan yang awalnya hanya berupa tumpangan singkat, perlahan berubah menjadi keterikatan hati yang rumit.
.
Di tengah perjuangan Amina melawan trauma dan perebutan hak asuh anak melawan Ethan yang licik, Arslan berdiri sebagai pelindung yang kokoh—sebuah dermaga tenang bagi jiwa Amina yang selama ini terombang-ambing.Ini adalah kisah tentang hancurnya sebuah harapan, keteguhan iman di negeri asing, dan janji Allah bahwa setelah kesulitan yang memuncak, akan selalu ada ganti yang lebih baik bagi mereka yang bersabar.
Unfold
Seminar bela diri telah usai, namun Arslan Karataev masih terjebak dalam pikirannya sendiri. Ia menolak ajakan makan siang dari para panitia, memilih untuk menyendiri sejenak di koridor dekat area lift. Kepalanya penuh dengan bayangan wanita bercadar yang ia lihat di lobi tadi pagi—siluet yang sama dengan wanita yang dulu ia tolong saat dunia se……
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Waiting for the first comment……