1.559K
VISITORS
43

ABOUT ME

Hai. Mari berteman. Find me on insta: @rabbitraa

ABOUT ME

Hai. Mari berteman. Find me on insta: @rabbitraa
FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY Rabbitra

If We Bring it Back

If We Bring it Back

Reads

Bagaimana jadinya jika kalian hidup di tahun 2083? Tahun-tahun yang terasa seperti neraka. Bahkan mungkin inilah akhir dari peradaban manusia, terdengar seperti sedikit dilebihkan, tapi begitulah kenyataannya. Pepohonan sudah menjadi sangat langka, langit biru telah digantikan dengan warna merah efek radiasi. Setelah air menjadi barang mewah dan sulit didapat, kini tiap oksigen yang dihirup pun harus dibayar. Entah matahari yang mengganas atau bumi yang melemah, yang jelas, ini adalah mimpi buruk bagi seluruh penduduk bumi. Saka Amalta, remaja 18 tahun harus kembali ke masa lalu dengan kapsul waktu demi mengubah keadaan di tahun 2083 ini. Lantas mampukah Saka meyakinkan mereka yang hidup di masa lalu? Mampukah Saka, mengubah semuanya?

Updated at

Read Preview
I'm Your Apple

I'm Your Apple

Reads

"Mungkin… kau dibuat bingung dengan orang yang namanya sama," cakap Aksa sambil mengepalkan tangan, lelaki itu berusaha mati-matian menahan emosi. "Atau… atau dokumennya tertukar!" Sambungnya, dan tanpa aba-aba, Aksa mencob meraih setumpuk dokumen yang berada di atas meja. Namun, tangannya segera ditepis oleh seorang lelaki yang duduk berhadapan dengannya. Lelaki tua dengan berbalut jas putih serta kacamata yang bertengger di hidungnya. "Singkirkan tanganmu!" Perintahnya, "Lagi pula kau tak akan mengerti, ini istrimu!" "Kenapa kau mengatakan semuanya padanya?!" Geram Aksa. "Aku seorang Dokter. Dia butuh waktu untuk bersiap dengan apa yang akan menimpanya." "Kau yakin dengan itu?" "Tentu!" "Benarkah? Sepenuhnya yakin?" Cecar Aksa, bahkan kali ini ia sampai bangkit dari duduknya, mencondongkan diri ke arah sang dokter yang masih terduduk di kursinya. Lelaki sedingin dan seapatis Aksa, kali ini dibuat panik, takut sekigus bingung bukan kepalang. "Jika tak percaya padaku bawa saja ke dokter lain!" Brakkk! Detik berikutnya amarah Aksa tak lagi tertahankan, lelaki itu menggebrak meja serta menyerang dokter yang ada di hadapannya, menarik kerah jas putihnya, menyeret serta membenturkan tubuh sang dokter ke tembok yang ada di belakang. "Kau sudah gila? Ada apa dengan dirimu?!" Geram sang dokter, "ini rumah sakit!" "Apa kau yakin? Kau benar-benar yakin dengan apa yang kau lakukan?!" Cecarnya lagi sembari terus menekan lengan kanannya pada leher sang dokter. Seorang perawat pun dengan sigap menerobos masuk begitu ia mendengar keributan dari dalam ruangan, berusaha melerai dengan menahan tangan Aksa. "Istrinya juga meninggal karena penyakit itu," ujar sang perawat, membuat Aksa lantas tersentak, pun seketika melepaskan cengkramannya dan mundur beberapa langkah. "Dan dia menghabiskan hidupnya untuk meneliti penyakit tersebut." "Terima kenyataannya, kau tidak akan bisa mengubahnya." Kata sang dokter sembari merapikan kembali jas putihnya.

Updated at

Read Preview
Black Walker

Black Walker

Reads

Sebuah pintu terbuka, menampilkan sesosok lelaki berbalut jubah hitam panjang baru saja memasuki ruangan bernuansa istana yang sudah tak terurus itu. Ranting pohon tua bertebaran di lantai, pun sosok berjubah hitam itu menatap lurus ke depan, di hadapannya sudah ada enam sosok lainnya yang juga mengenakan jubah hitam persis seperti dirinya, bedanya mereka dilengkapi dengan topeng putih dilapisi emas pada bagian atasnya yang menutupi wajah mereka. Tepat ketika ia melangkahkan kaki ke arah mereka, ke-enam sosok tersebut pun membalikkan badan. Lelaki tersebut tetap melanjutkan langkahnya, memposisikan diri di tengah-tengah mereka. Ia melirik ke arah sosok yang berada di kanan dan kirinya sebelum akhirnya ia mengenakan topeng yang sama, entah sejak kapan topeng putih itu berada di tangan kanannya. "Kau… yang selanjutnya… Darel…" "Kau… yang selanjutnya… Darel…" Suara itu mulai menggema. Lelaki yang baru saja mengenakan topeng itu ternyata Darel. Pun ia memandang ke sekelilingnya. Tak ada siapa pun selain ia dan enam sosok yang bersamanya di sana. Namun suara itu terus menggema dan terdengar semakin keras, anehnya seperti hanya Darel yang dapat mendengarnya, terbukti dengan sosok yang lainnya yang tetap berdiri tenang seakan tak mendengar apa pun. Sementara Darel, ia menutup telinganya dengan kedua tangan. Sebab suara itu benar-benar terdengar semakin memekikkan telinga, kepala Darel terasa berat. Segala sesuatu yang dilihatnya seolah memutar, Darel mulai oleng. BRAAKKK! NGIINNGGGGGGG Pada akhirnya Darel jatuh terkapar di atas lantai dengan telinga yang berdengung, membuatnya semakin menutup telinga dengan kencang. "Kau… yang selanjutnya… Darel…"

Updated at

Read Preview
Escape

Escape

Reads

"Berhenti!" Pekik Tony ketika melihat si pelaku melarikan diri, kemudian lelaki itu segera mengejarnya. "Daniel! Daniel sadarlah!" Willy nampak kebingungan. Antara segera mengejar atau menguatkan rekannya yang terduduk lemas di atas lantai, meratapi jasad seorang lelaki yang berselimut darah di hadapannya. Lutut Daniel terasa begitu lemas, kedua kakinya tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Pistolnya sudah terjun begitu saja dari genggaman, mendarat di atas tanah. Matanya begitu merah dan berkaca. Bibirnya tak mampu mengucap sepatah kata pun. "ARGHH!!" Willy menjambak rambutnya frustasi. Kemudian berlalu meninggalkan Daniel, bergegas memasuki mobilnya untuk melakukan pengejaran. "Tunggu!" Sesosok lelaki berlari ke arah mobil Willy dari dalam gedung. Itu Daniel! "Aku yang menyetir!" Kemudian ia segera melajukan sedan itu dengan kecepatan penuh, hingga ia dapat melihat di depan sana ada mobil Tony juga satu mobil aparat polisi yang masih melakukan pengejaran. Daniel semakin mempercepat laju kendaraannya. Berusaha menyelip di antara mobil-mobil lainnya yang ribut membunyikan klakson. Setelah mobil pelaku terlihat, Willy menampakkan setengah tubuhnya keluar jendela. Menembakkan peluru beberapa kali pada mobil yang ditargetkan, membuat kaca belakangnya hancur dan ban sebelah kanannya pecah. Namun si pelaku justru mempercepat lajunya. Hingga di persimpangan jalan. Sebuah truk besar melaju dengan kecepatan yang tak kalah kencangnya dari arah samping. "Daniel Awas!!" "AAAAARGHHHH" BRAAAK

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.