50
VISITORS
1

ABOUT ME

Menulis untuk Hidup

ABOUT ME

Menulis untuk Hidup
FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY Afifah Rosyad

Cinta Tanpa Garis Keturunan

Cinta Tanpa Garis Keturunan

Reads

Di usia 38 tahun, Ardan Wijaya memiliki segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan kerajaan kuliner yang menggurita di seluruh pelosok Indonesia. Namun, bagi keluarga Wijaya, keberhasilan Ardan hanyalah cangkang kosong. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, ia memikul beban berat untuk menjaga garis keturunan dan memastikan kursi kepemimpinan bisnis tetap jatuh ke tangan pewaris darah dagingnya. Di balik kemewahan hidupnya, Ardan hidup dalam kungkungan ekspektasi yang menyesakkan. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seorang wanita yang dunianya bertolak belakang dengannya—seorang petualang yang tidak menginginkan apa pun darinya, termasuk harta. Namun, ketika Ardan memutuskan untuk menantang takdir dan melawan tradisi demi wanita yang dicintainya, sebuah rahasia masa lalu muncul ke permukaan. Sebuah kenyataan medis yang tidak hanya mengancam status mereka sebagai pasangan, tetapi juga mengguncang fondasi kepercayaan yang baru saja mereka bangun. Di antara tuntutan keluarga yang tak kenal ampun dan hati yang memilih untuk menetap, mampukah Ardan mempertahankan cintanya ketika ia tahu bahwa wanita yang ia pilih tidak akan pernah bisa memberinya apa yang keluarganya tuntut selama ini?

Updated at

Read Preview
Cowok Ransel dan Cewek Koper

Cowok Ransel dan Cewek Koper

Reads

Kirana selalu percaya kopor birunya bisa membawanya ke mana pun, asal jauh dari luka. Bara percaya ransel lusuhnya adalah satu-satunya rumah yang tak pernah mengkhianatinya. Dikhianati oleh orang yang paling mereka percaya pacar sekaligus sahabat sendiri keduanya memutuskan hal yang sama: pergi. Jauh. Ke ujung dunia kalau perlu. Tanpa saling kenal, mereka menyusuri kota-kota yang konon bisa mempertemukan cinta sejati dari gembok cinta di Paris, batu jodoh di Kyoto, hingga legenda kuno di Verona. Mereka bertukar cerita lewat akun anonim tanpa tahu siapa di baliknya, nyaris berpapasan berkali-kali, dan justru makin dekat lewat kata-kata yang mereka kira hanya didengar orang asing. Sampai akhirnya, di tanah suci, di padang yang mempertemukan Adam dan Hawa, dua pengembara yang patah hati itu berdiri berhadapan. Jabal Rahmah. Saksi bahwa cinta yang tersesat pun, cepat atau lambat, akan pulang.

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.