Seorang gadis harus menghadapi dua dunia dalam satu waktu yang bersamaan. Dengan peradaban jaman yang sangat berbeda. Ia terjebak dalam ruang gelap dan terhenti akibat perasaan yang terlanjur dalam. Awal yang tragis dengan harapan yang manis meski harus berujung tangis. Ia hidup dalam genggaman seorang pria yang asing baginya di dalam dunia fana.
Larrisa Camory harus menerima tawaran perjodohan atas dasar keterpaksaan meski pria itu adalah enterpreneur muda dan tampan rupawan. Dia tidak menyukai pria itu meski seribu orang mengagumi. Dia tidak ingin menikah. Demi agar terus bisa bermain skating, dia harus menandatangani sebuah kontrak perjanjian. Eliot William memaksa Larissa bersandiwara seolah menyetujui perjodohan tersebut. Mereka berlakon saling mencintai, hingga tak sadar bahwa salah satu diantara mereka terjebak dalam perasaan itu sendiri. Siapa yang lebih dulu jatuh cinta? Eliot atau Larrisa?
Pertemuan adalah takdir, perpisahan adalah jalan. Masa lalu adalah jeratan dunianya, selalu terikat meski sudah diputuskan berlalu. Apakah benar kehidupan hanya ada satu dunia dan alam yang sama? Kehidupan Celine Morgiten berubah arus setelah bertemu dengan Lucky Valerio yang tidak tahu merupakan suatu pertanda baik atau buruk. Namun perih dan kegelapan selalu mengitari kehidupannya. Ingin berlari namun terdekap dalam kekangan, ingin teriak namun ruang kian kedap dan hampa. Teriakan dan isak tangis selalu menggambarkan jalan hidupnya. Tidak kenal kapan waktu dan tempat terjadinya, dia selalu muncul di depan matanya. Ketika menatap yang terlihat hanyalah darah dan kegelapan. Kekejamanan dan misteri yang tak terungkap. Hubungan yang rumit adalah alasan kepedihan itu. Menyakitkan namun harus tetap bertahan. Diberi tanggung jawab yang harus dipikul sendiri. Itulah nasib yang ditakdirkan untuknya. Selang berjalannya waktu, pria kejam yang dingin mulai merasakan sesuatu dalam hatinya. Tanpa sadar dia mulai memperhatikan setiap yang dilakukan oleh wanita itu. Ketika sakit, dia pun ikut merasakannya. Sayangnya dia tak menyadari perasaannya sendiri akibat dendam yang masih disangkut pautkan dengan kehidupan masa lalu.
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.