4
VISITORS
0

ABOUT ME

ABOUT ME

FOLLOWING
You are not following any writers yet.
More

STORY BY usAma ali

8 Laci Berdarah

8 Laci Berdarah

Reads

--*BAB 1: UZAIR DAN RUANG BAWAH TANAH*Uzair adalah pekerja pabrik. Seorang anak yang jujur. Selalu datang tepat waktu, selalu pulang tepat waktu.Suatu sore. Supervisor Uzair berkata padanya, "Pergi ke ruang bawah tanah dan ambil satu bal kapas." Uzair pergi. Hari sudah mulai gelap.Dia mengambil kapas dan sedang kembali ketika dia mendengar suara samar. Dia menoleh. Tidak ada apa-apa. Dia berpikir mungkin itu kucing. Jadi dia mulai mencarinya.Saat mencari, tangannya menyentuh sebuah lemari dan lemari itu terbuka. Di belakang lemari ada sebuah pintu. Di pintu itu ada gembok, dan di gembok itu terikat benang merah dan hitam.Uzair adalah anak yang sederhana. Dia tidak tahu apa itu. Tapi dia bisa mendengar suara barang-barang jatuh dari balik pintu itu. Dia berpikir, "Kalau itu kucing, dia akan merusak barang-barang." Jadi dia memutus benang itu dan merusak gemboknya.Saat dia membuka pintu, bau keluar dari dalam. Gelap. Dia menyalakan senter di ponselnya dan masuk ke dalam. Melihat sekeliling. Tidak ada kucing. Menggaruk kepalanya, dia berjalan lebih jauh ke dalam.Lalu matanya tertuju pada sebuah kotak di depannya. Sebuah kotak sepanjang 11 kaki. Dia melihat keempat sisi kotak itu. Ada tulisan aneh di seluruh permukaannya. Ada 2 gembok di kotak itu.Uzair berpikir, "Apa yang ada di dalamnya?" Dia mencoba merusak gemboknya tapi tidak bisa. Sudah terlambat. Dia berpikir, "Aku akan kembali besok dengan obeng dan membukanya."Keesokan harinya, sore lagi. Dia datang dengan obeng dan mulai membukanya. Tiba-tiba satu gembok terbuka dan angin kencang berhembus. Uzair melihat sekeliling. "Angin ini dari mana?" Dia mengabaikannya dan mulai mengerjakan gembok kedua. Gembok kedua terbuka dan Uzair merasakan hentakan. Dia terkejut. Dia membuka kotaknya.Suara samar: _tuurrr turrrr_Di dalamnya dia melihat 8 laci. Setiap laci ada gemboknya. Dia mulai merasa tidak tenang. Dia memutuskan untuk membuka gembok pertama. Dia memasukkan obeng dan membukanya.Uffff... yang seharusnya TIDAK dibuka.Dia membuka lacinya. Di dalamnya ada kain hitam dan sebuah cermin. Dia melihatnya. "Benda apa ini?" Dia mengambil cermin itu, membuang kain hitam di sana, memasukkan cermin ke sakunya dan berkata, "Buang-buang waktu saja." Dia menutup kotaknya dan meninggalkan semuanya seperti semula. Satu-satunya yang dia biarkan rusak adalah gembok lemari.Uzair membawa cermin itu dan pulang ke rumah.Malamnya, setelah makan malam, dia pergi tidur. Saat matanya terpejam, seseorang mencengkeram tangannya. Dia tersentak bangun. Melihat sekeliling. "Apa yang terjadi?" Dia menyalakan lampu. Memeriksa seluruh kamar. Tidak ada apa-apa. Dia berbaring lagi. Memejamkan mata. Lalu dia mendengar suara meong kucing. Dia melihat. Tidak ada kucing.Sekarang dia takut. Suara kucing ada, tapi tidak ada kucing. Dia terjaga sepanjang malam. Jam 5 pagi semuanya menjadi sunyi. Tidak ada suara, tidak ada apa-apa. Karena takut, akhirnya dia tertidur.Pagi harinya saat Uzair sampai di pabrik, semua orang menatapnya. Temannya bertanya, "Uzair, kamu telat pertama kali hari ini." Uzair menceritakan semua yang terjadi semalam. Tapi dia tidak ingat bagian lemari. Temannya tertawa dan berkata, "Pasti hantu." Tapi wajah Uzair pucat, seperti dia baru melihat ular.Semua orang kembali bekerja. Tiba-tiba jam 3 sore terjadi kekacauan di pabrik. Alarm mulai berbunyi. Kebakaran terjadi di ruang bawah tanah pabrik. Satpam langsung berlari ke bawah. Setelah usaha keras mereka memadamkan api.Mereka memberitahu pemilik pabrik. Pemiliknya sendiri datang untuk melihat apa yang terjadi. Saat matanya melihat lemari itu, jiwanya bergetar ketakutan. Tangannya mulai gemetar dan ada ketakutan di suaranya. Dia langsung pergi dan pulang ke rumah.Beberapa saat kemudian pemiliknya kembali dan mengumpulkan semua pekerja. Dia bertanya, "Siapa yang ke ruang bawah tanah? Siapa yang merusak gembok lemari?" Uzair juga ada di sana. Sebagai anak jujur, dia mengangkat tangannya. "Pak, saya. Saya mendengar suara barang jatuh. Saya kira ada kucing masuk dan akan merusak barang. Jadi saya membukanya untuk memeriksa."Pemiliknya menatap Uzair dan menarik napas dalam-dalam. "Kamu telah membuat kesalahan besar. Akibatnya, baik saya maupun kamu harus menanggungnya."Ada begitu banyak ketakutan di suara pemilik itu sehingga Uzair juga menjadi takut.Pemiliknya berkata, "Pintu di dalam lemari itu... ayah saya yang menutupnya. Dia berpesan keras, apa pun yang terjadi, jangan rusak gembok itu. Di dalamnya ada iblis."Mendengar ini, Uzair mulai menangis dan memohon maaf. Pemiliknya bertanya, "Apakah kamu mengambil sesuatu dari sana?" Uzair memasukkan tangannya ke saku dan mengeluarkan cermin itu. "Saya mengambil ini."Pemiliknya melihat cermin itu dan

Updated at

Read Preview
Uzair aur Basement ka Box

Uzair aur Basement ka Box

Reads

7 Taale Todne Ki Qeemat Malik ko laga basement khaali hai. Usne dabba khol diya. Andar kuch nahi tha... lekin us raat se factory me 3 mazdoor gaayab ho gaye. Ab hisaab chukana hoga. ---Factory ki shift hamesha raat 9 baje khatam hoti thi. Uzair sabse bharosemand worker tha. 3 saal me kabhi late nahi hua tha. Ek din supervisor ne kaha: "Uzair, basement me pipe leak ho raha hai, check karke aao." Uzair ne haan kahi aur basement ki taraf chal pada. 3 saal me wo kabhi neeche nahi gaya tha. Bahar lohe ka darwaza tha, zang laga hua. Upar laal rang se likha tha: "MANA HAI - AKELA ANDAR MAT JANA". Uzair ne socha purana rule hoga aur darwaza khol kar andar ghus gaya. Andar hawa bohot bhari thi. Gandi smell aa rahi thi nami aur purane kapde jaisi. Mobile ki torch jalai to lambi seehiyan dikhi. Dheere dheere neeche utarta gaya. Har kadam pe joote se awaaz aati: krrr... krrr... Basement bara tha. Ek taraf purane machine parts, doosri taraf lohe ki almariyan. Pipe dhundte dhundte uzair ek corner me pohancha jahan se paani tapak raha tha. Wapas murne hi laga tha ke nazar ek bare lohe ke box pe padi. Box 4 feet lamba tha, kala rang ka. Upar laal aur kale dhage se bandha hua tha. Box pe ajeeb se nishan bane hue the. Na urdu, na arabic. Uzair ka dil tez dhadakne laga. Dimaag ne kaha chhod do, magar haath khud hi box ki taraf badh gaye. Tala purana tha. Uzair ne jeb se screwdriver nikali aur 10 minute me tala tod diya. Box khola to andar se thandi hawa nikli. Andar ek kala kapra tha aur uske neeche ek chota sa mirror. Frame lakdi ka tha, uspe bhi wahi nishan the. Mirror bohot halka aur thanda tha. Uzair ne socha ghar le jaunga, aur mirror jeb me rakh liya. Agli subah safai wale heran reh gaye. Raat ko jo saman seedha pada tha wo sab ulta-pulta ho gaya tha. Factory khuli to puri jagah me ajeeb si smell thi. Meethi bhi aur kharab bhi. Room freshner ke 3 spray mare gaye tab jaake thodi kam hui. Sabse badi baat ye hui ke uzair late tha. 12 baje aya, chehra pila pada tha, aankhon ke neeche kaale ghere. Dost Bilal ne poocha: "Kahan tha bhai? Tabiyat theek hai?" Uzair bola: "Yaar raat ko soya nahi. 2 baje awaaz aayi khrrrr... khrrrr... Jaise koi loha ghaseet raha ho. Utha to bahar koi nahi tha. Wapas lita to laga koi kaan me phusphusa raha hai: Wa... pis... rakho... Phir laga kisi ne haath pakad ke bed se neeche phenk diya. Poori raat soya nahi." Bilal ne kaha wehem hoga. Magar uzair ke chehre pe dar saaf tha. 2 baje factory me shor mach gaya: "AG LAG GAYI! BASEMENT ME AG LAG GAYI!" Sab bhaage. Guards ne dekha basement ke usi corner se dhuan nikal raha tha jahan box pada tha. Aag 5 minute me bujh gayi. Magar ajeeb baat ye thi ke box ko kuch nahi hua. Laal dhaga bhi wesa hi tha. Agla din phir uzair late aya. Sham 4 baje basement se awaazein aani shuru hui. Dham... dham... dham... Jaise koi bhari cheez utha ke phenk raha ho. Supervisor gaya to sab saman bikhra pada tha, magar wahan koi nahi tha. Darwaza andar se band tha. Baat Malik tak pohanchi. Malik 60 saal ka tha, 30 saal se factory chala raha tha. Usne sabko line me khada kiya aur poocha: "Kon gaya tha basement me?" Sab chup rahe. Phir uzair ne haath utha diya: "Sir, main gaya tha." Office me bulaya gaya. Malik ne poocha: "Box ko kyun chheda?" Uzair ki jaan nikal gayi. Jeb me haath dala, mirror abhi bhi tha. Malik ne dekha aur chehra safed pad gaya. Foran bola: "Molvi sahib ko bulao, abhi." Molvi sahib aaye, mirror dekha aur foran kapde me lapet diya. Bole: "Ye aam mirror nahi hai. Isme kuch band hai. Jisne uthaya hai wo khud jaye. Box khole, mirror wapis rakhe, maafi mange, aur tala laga de. Agar na kiya to ye sirf factory nahi, yahan ka har banda khatam ho jayega." Raath 11 baje uzair akela gaya. Haath kaap rahe the. Box khola, mirror wapis rakha, aur zor se bola: "Mujhe maaf kar do! Galti ho gayi! Main nahi jaanta tha!" Tala lagaya aur bhaag ke upar aa gaya. Us raat ke baad sab theek ho gaya. Na smell aayi, na awaazein. Uzair time pe aane laga. Agli subah Malik ne 10 mazdoor laga ke basement ka darwaza pakka karwa diya. Upar likhwa diya: "YE JAGAH HAMESHA KE LIYE BAND HAI". Aaj bhi factory me kaam hota hai. Magar raat ki shift me koi akela basement ke paas nahi jata. Aur uzair... wo ab bhi wo raat yaad karke so nahi pata. *Khatam.* ---

Updated at

Read Preview
The Cursed Bride

The Cursed Bride

Reads

*Chapter 1: The Perfect Girl*Samna was from an elite family. She was beautiful, kind, active, and intelligent. She had just finished her studies and lived happily at home, making everyone around her happy.One Saturday, her father received a wedding invitation. The whole family prepared to go. When Samna came out ready, everyone just stared. She looked unbelievably beautiful. At the wedding, all eyes were on her.*Chapter 2: The Obsession*There was a boy at the wedding who could not take his eyes off Samna. He went to his mother, a well-known and powerful woman, and said, "I want to marry only this girl."His mother saw Samna and liked her at first sight. Using her contacts, she reached Samna’s family. Samna’s father said, "We will think about it and let you know." They attended the wedding and went home.*Chapter 3: The Investigation and Refusal*The next day, the woman called Samna’s house. Her father said, "We need some time." He started investigating the boy. He found out that the boy had no job, no responsibility, and used drugs. He realized the boy was not worthy of Samna.A few days later, the woman called again. Samna’s father said no directly. "Our daughter is very innocent. We want a decent and responsible boy. Your son is not." The woman got furious. She insulted him and threatened, "The wedding will happen with my son." Then she cut the call.*Chapter 4: The Sudden Illness*Within a few days, Samna started feeling weak. They took her to a doctor who put her on a drip. She came home. Two days later, her face became pale. Her hair started falling out in clumps when she combed it. She was terrified and told her mother. They went to the doctor again. All tests were normal. They went home.But within a few days, Samna was completely bedridden. She couldn’t even stand up. She was so weak. She had lost so much hair that she was ashamed to come out of her room. The happy girl became completely silent.*Chapter 5: The Suspicious Call*Her parents were very worried. They called doctors to their house, but every test was normal.One day, that same woman called. "I heard Samna is very sick. We are still ready to accept her," she said.Furious, Samna’s father said, "No," and cut the call. That call made him suspicious. On his way to the mosque for prayer, he told the Imam about Samna. The Imam said, "Take me to your house. Let me see."*Chapter 6: The Possession*The Imam came to their house and went to Samna’s room. He felt a strange smell. He went to her, asked how she was, and started reciting prayers.Samna looked at him, laughed, and suddenly stood up on the bed. In a different voice, she said, "Abdul Rahman, what are you reading? Can’t you see her condition? Do you want me to do the same to your daughter?"Her parents were shocked. The girl who could not get out of bed was now standing and talking like that.The Imam came out and told her father with worry, "Black magic has been done on her. It is very dangerous. Get her treated quickly, or it will be too late."*Chapter 7: The Spiritual Healer*Samna’s mother started crying and begged the Imam, "What do we do? We know nothing about this. Where do we go?" The Imam gave them a reference to a spiritual healer. Samna’s father contacted him. The healer said he was out of the country and would contact them when he returned.Samna somehow knew this. That night, when her mother was feeding her, Samna bit her mother’s finger. Her mother screamed, "What are you doing?" Samna, in a different voice, said angrily, "Get me married to that boy, or I will die. And the one you called cannot do anything to me."Her mother started crying and went to her father. He rushed them to the hospital to bandage her finger.*Chapter 8: The Failed Attempt*Two days later, the healer arrived. As soon as he went near Samna, she sat up and started reciting something. He stayed quiet and came out. From inside, they heard Samna laughing and saying, "I told you, he cannot do anything."Then the healer took her father outside and asked for the full story. He understood everything. He said, "I will pray tonight and come tomorrow."*Chapter 9: The Buried Items*The next day, the healer told the father, "There are many items buried in your house for Samna. We have to find them."Wherever he pointed, they found things: a doll, lemons with needles stuck in them, and many other things. He said, "Someone from your own house is involved."They questioned everyone strictly. A maid got scared and tried to run. They caught her. She confessed that she was paid to do all of this.The healer said, "I must pray here for one night. Either Samna will be cured, or she will die. If Samna is cured, that woman will die. You decide what to do."Her parents said, "There is no other way. Please treat he

Updated at

Read Preview
Naran Cursed Road

Naran Cursed Road

Reads

*Chapter 1: The Plan Goes Wrong*Shahrukh and his cousins were excited. A midnight picnic trip to Naran Kaghan. The mountains, the cold air, the road trips, it was all planned. But destiny had other plans. On the way, they got stuck in heavy traffic. Everyone was frustrated and late. That’s when one cousin pointed at a broken, unpaved road on the map. "Bro, this is a shortcut. We’ll reach faster," he said. Shahrukh, being the sensible one, hesitated. But the others convinced him. Against his gut feeling, he turned the SUV onto the dark, empty kacha road. *Chapter 2: The Road to Nowhere*Within minutes, everything changed. The main road’s lights were gone. Now there was only darkness. No houses. No shops. No people. Just trees and silence. It was so quiet that the sound of their own car felt loud. Shahrukh looked to his left. A graveyard. Broken graves, tilted stones. He looked to his right. A shamshan ghat, with faint smoke still rising. The cousins went silent. The mood had changed from fun to fear. *Chapter 3: The Old Man*A few minutes later, headlights caught something on the side of the road. An old man. He wore dirty, torn clothes. A cloth was tied around his head. In his hand, a wooden stick. He was standing alone in the middle of nowhere. And he was smiling. Not a normal smile. A wide, creepy, welcoming smile, as if he was waiting for them. "Stop the car," one cousin said. "Let’s help him. Where does he want to go?" But Shahrukh gripped the steering wheel tighter. "What would an old man be doing in a place like this?" he said. "Drive." He pressed the accelerator and sped past him. In the rearview mirror, the old man was still smiling. *Chapter 4: The Tall Funeral*They didn’t get far. Up ahead, the road was blocked. A funeral procession. But this was no normal funeral. The men carrying the coffin were not normal men. They were extremely tall, thin, with distorted faces. Inhuman. All of them had stopped and were now staring directly at Shahrukh’s car. And all of them were smiling. One cousin couldn’t take it. He let out a blood-curdling scream and fainted on the spot. Shahrukh didn’t look back. He swerved and drove faster, his hands shaking on the wheel. *Chapter 5: The Burst Tire*Then it happened. BANG. The tire burst. Now they were stranded on that cursed road, in the middle of the night, in the cold. Shahrukh took a deep breath and chose one cousin to help him. They got out, sweating despite the cold, and started changing the tire with a flashlight. The forest was black all around them. That’s when they heard it. A scream. A long, inhuman scream from the trees. Shahrukh’s blood ran cold. He worked faster. The tire was finally changed. They jumped back into the car and locked the doors. Before they could drive, THUD. Something slammed into the back of the car with so much force that the whole SUV shook. Voices started echoing around them. "Roko… Roko… Stop… Stop…" Shahrukh didn’t stop. He floored it. *Chapter 6: The Police*Terrified and out of breath, they finally reached the main road. A police jeep was parked there. They stopped and told the officer everything. The shortcut. The graveyard. The old man. The tall funeral. The hand. The police officer listened in silence. Then he looked at them and said only one line: "This road is like that." Shahrukh had no other words. He just nodded. It was a mistake. A mistake they would never make again. *The End.*

Updated at

Read Preview
jungle wale school ka  Raaz

jungle wale school ka Raaz

Reads

---Shakir town ka rehne wala ek mast ladka tha. Poori gali me uska naam mashhoor tha. Cricket ho ya football, hat khel me aage rehta tha. Lekin uski zindagi us din badal gayi jab wo chuppan-chupai khelte hue galti se us purane school me ghus gaya.School ke saamne se guzarte hue hamesha se darr lagta tha. School ke andar poora jungle ug aya tha. Diwaren toot phoot chuki thin, class ke andar darakhton ki jadain ghus aayi thin. Raat hote hi wahan aisa andhera chha jata ke banda apni parchai se bhi dar jata. Koi bhi raat ko us taraf nahi jata tha. Log kehte the ke wahan raat ko kisi ladki ke rone ki awaaz aati hai.Us raat Shakir khelte khelte school ke andar ghus gaya. Andar jaate hi thandi hawa ka jhonka aaya aur school ka purana darwaza khud hi band ho gaya. Shakir ka dil zor se dharakne laga. Andhere me use kuch parchaian hileti hui dikhin. Mushkil se wo deewar phalang kar bahar nikla aur seedha ghar aaya. Raat ko so gaya, lekin neend me use ajeeb khwab aane lage.Achanak Shakir ki aankh khuli. Wo khud ko kisi alag hi duniya me paata hai. Na ghar, na gali, sirf lambi lambi qabrēn. “Main ye kahan aa gaya hoon?” Shakir ne kaha, awaaz uski khud ki thi lekin goonj kisi aur ki lag rahi thi.Wo pagalōn ki tarah idhar udhar bhagne laga. Bhagte bhagte wo qabrastan me pohanch gaya. Qabrōn se awaazen aane lagin: “Shakir… Shakir… Shakir…”Darte darte wo itna bhaaga ke uski aankh khul gayi. Lekin ye khwab nahi tha. Asal me ghar wale usay ghēr kar khade the aur chillā rahe the: “Shakir! Shakir! Utho!”Jab Shakir utha to uska jism paseene se bheeg chuka tha. Usne sab ko apna khwab sunaya. Ghar wale pareshan ho gaye. Subah hote hi usay ek baba ke paas le gaye. Baba ne dam kiya, paani pilaya, lekin raat hote hi Shakir ki halat aur kharab ho gayi.Raat ko uski aankhen laal ho jatin. Wo haathon ke bal bhagne lagta, kutton ki tarah gurrata, logon ko kaat ta, gaaliyan deta. Lagta tha jese uske andar koi aur bol raha ho. Majbooran usay pahadon me rehne wale bade baba ke paas le jaya gaya. Baba ne kaha: “Is par koi saya hai.”Jab Shakir andar gaya to usne dekha ke charon taraf kaale kutte khade hain. Shakir khud bhi kutton ki tarah bhonkne laga. Phir achanak uski awaaz badal gayi. Ek aurat ki tez awaaz aayi: “Main Sameena hoon! Isne mujhe tang kiya hai. Main isay nahi chhodungi!”Baba ne poocha: “Tum kaun ho? Kyon pareshan kar rahi ho isay?” Sameena hansi aur boli: “Ye school mera ghar tha. Jab ye andar aya to meri neend kharab kar di. Ab main isay jaane nahi dungi.”Baba ne kaha: “To kya chahiye tumhe? Chhod do isay.” Sameena ne kaha: “Mujhe 10 kaale bakre chahiye. Wo bakre usi school me chhod do. Tab ja kar main isay azaad karungi.”Baba ne waisa hi kiya. Raat ko school ke beech me 10 bakre bandh diye gaye. Raat bhar school ke andar se ajeeb awaazen aatin rahin — rona, chillana, hansna. Subah jab log gaye to dekha ke bakre wahan nahi the, aur school ke andar se ek safed dhuan nikal raha tha. Shakir theek ho gaya. Lekin us raat ke baad usne kabhi raat ko bahar nikalna chhod diya.Log kehte hain ke aaj bhi us school me raat ko kisi ladki ke rone ki awaaz aati hai. Aur agar koi andar jata hai to usay wapas aana naseeb nahi hota.*Khatam.*---

Updated at

Read Preview
Wo farm house jaha Maut thi

Wo farm house jaha Maut thi

Reads

---Usama aur uske office ke kuch doston ne program banaya ke agley Saturday farm house par 2 raat guzarenge. Safar lamba tha is liye sab bht intezar kar rahe the. Akhir hafte ka din aa gaya. Subah se hi sab ne tayariyan shuru kar di aur har ek ko ek zimedari de di gai. Shaam 5 baje safar shuru hua.Usama ki six sense usay bar warning de rahi thi. Us ne sab doston ko kaha ke mujhe achi feelings nahi aa rahi, lekin sab apni masti me lage hue the. Kisi ne Usama ki baat par dhyan nahi diya. Farm house pohnch kar sab ne saman rakha aur kamron me chale gaye. Khana khane ke baad sab swimming pool ki taraf chale gaye. Speaker par full awaz me gaane chal rahe the aur sab enjoy kar rahe the.Magar Usama ko kamre me ek saya nazar aaya. Wo pool se bahar nikla aur kamre ki taraf gaya. Jab andar gaya to wahan koi nahi tha. Us ne ignore karke wapis aa kar enjoy karna shuru kar diya. Raat ko sab sone chale gaye. Abhi sab soye hi the ke ek zor ki awaz aai, jaise koi bhari cheez giri ho. Sab log kamron se bahar aa gaye.Usama ki nazar garden me gayi to dekha ke jhula khud hi chal raha tha. Sab ne dekha to kisi ko yaqeen nahi aa raha tha. Sab dar gaye. Abhi jhule ko hi dekh rahe the ke room se sheesha tootne ki awaz aai. Sab us taraf bhage to dekha ke room ke sare mirrors toot gaye the. Achanak room ka darwaza zor se band ho gaya. Sab ne koshish ki magar darwaza na khula. Jab darwaza torhne lage to khud hi khul gaya. Sab log dar ke mare bahar bhag gaye. Swimming pool me pani ki awazen aa rahi thi magar pool khali tha.Darr ki wajah se sab ki halat kharab ho gai. Saman chor kar sab farm house se bahar nikal gaye. Gari me bethne lage to pata chala ke Usama andar hi reh gaya hai. Thora intezar kiya, jab Usama nahi aaya to faisla hua ke sab ek sath andar jayenge aur Usama ko le kar ayenge. Dar dar ke sab andar gaye, sare room aur pura farm house dekh liya magar Usama na mila. Sab pareshan ho gaye ke akhir Usama kahan gaya.Ek larke ne kaha ke chalo gari me intezar karte hain. Puri raat gari me guzarne ke baad subah sab andar gaye. Jese hi garden par nazar pari to dekha ke Usama jhule par betha tha aur jhula chal raha tha. Usama, Usama awaaz di magar wo kisi baat ka jawab nahi de raha tha. Himmat karke ek larke ne uske kandhe par haath rakha to Usama jhule se gir gaya. Wo saans nahi le raha tha. Foran ambulance ko bulaya gaya aur hospital le kar gaye.Doctor ne kaha ke he is no more. Koi nahi janta us raat asal me kya hua tha. Farm house band ho gaya aur Usama is duniya se chala gaya. Aaj bhi jab koi un larkon se farm house ki baat karta hai to wo darr se kanpne lagte hain.--

Updated at

Read Preview
Hania Aur wo awaz

Hania Aur wo awaz

Reads

*Chapter 1: Ladli Beti* Hania ek suljhi hui, khush mizaj larki thi. 2 bhaiyon ki ladli behen. Zindagi me koi problem nahi thi. Suba college jana, doston ke sath hansi-mazaq, shaam ko ghar ana. Yehi uski routine thi. Lekin ek suba sab badal gaya...*Chapter 2: Bakre Ka Sir* College jate waqt raste me hania ko ek bakre ka sir pada nazar aya. Masti me usne sir uthaya, kaan pakar ke ghumaya aur zor se deewar pe mara. Deewar se ek aawaz aayi... bilkul bakre jaisi un logo ne idhar udhar dekha phr ek hansi ki awaz i j se hi unhone suna . Hania aur uski saari dosten darr ke bhag gain. College me kisi ne ek doosre se baat tak nahi ki. Sab normal ghar aa gain. Lekin hania...*Chapter 3: Kamra Band* Hania seedhi apne kamre me gai aur darwaza band kar liya. Bed pe baith ke rone lagi. Maa ne awaz suni to darwaza bajana shuru kiya. Hania ne nahi khola. Rone ki awaz aur tez ho gai. Maa ne foran papa ko call ki jo office me the. Papa ghar bhage aaye. Darwaze ke peeche se kya aawaz aa rahi thi? Sirf rona... ya kuch aur?*Chapter 4: Hansi Aur Naam* Papa ne darwaza todne ki koshish ki. Tabhi andar se rone ki awaz ruk gai aur zor se hansne ki awaz aane lagi. Aur ek aawaz aayi: "Yameen... Yameen tu aa gaya apni beti ke paas. Magar andar se kaise aayega?" Yameen hania ke papa ka naam tha. Papa ne lock tod diya. Andar jaake dekha to hania so rahi thi. Jaise kuch hua hi na ho.*Chapter 5: 4 Rotiyan* Hania ko uthaya gaya. Khana khilaya gaya. Lekin jo hania 1 roti se zyada nahi khati thi, us din usne 4 rotian araam se kha li. Papa samajh gaye ke kuch to masla hai. Faisla hua ke hania ke dono bhai ghar aayen. Raat 11 baje dono bhai gaye. Kamre me gaye to hania kisi se baat kar rahi thi. Jab unhone poocha to wo boli: "Sab sahi hai." Magar uski aankhon me kuch aur tha.*Chapter 6: Kacha Gosht* Raat 2:30 baje ghar me bhaagne ki awaz aayi. Maa kitchen me gain to dekha hania zameen pe baithi hai. Haath me kacha gosht, aur wo noch ke kha rahi thi. Maa ki cheekh nikal gai. Sab bhaage aaye. Lekin hania ab bilkul normal khari thi. Jaise kuch hua hi na ho. Papa ne kaha: "Abi so jao, suba dekhte hain." Lekin us raat kisi ko neend nahi aayi.*Chapter 7: Imam Sahab* Suba hote hi papa ek masjid ke imam ko ghar le aaye. Imam ne parhna shuru kiya. Thodi der me hania ka chehra badalne laga. Pehle wo zor se roi, phir hansne lagi. Aawaz poore ghar me goonj rahi thi. Usne imam sahab ke munh pe thappar mara aur wo door ja girre. Imam sahab darr ke ghar se nikal gaye. Unhone kaha: "Ye koi bht buri cheez hai. Isko mere ustad ke paas le jao."*Chapter 8: Dhamki* Ghar me hania pe hazri aa gai thi. Usne ek alag hi awaz me kaha: "Agar ab kisi ko laya to tum me se koi ek apni jaan se haath dho baithega." Ye kehte hi wo behosh ho gai. Ab sab pareshan the. Kya karein? Bht jagah le gaye. Koi ilaj nahi hua. Paise bhi bht lage. Akhir me har kisi ne haath khinch liya.*Chapter 9: Band Kamra* Hania ko ek kamre me band kar diya gaya. Khana bhi wahi dete the. Halat aisi ho gai jaise koi pagal insan ho. Baal bikhre hue, nakhun bare hue. 2 mahine guzar gaye. Ghar ka mahol bilkul spooky rehne laga. Raat ko ajeeb aawazen aati. Koi hania ki madad nahi kar pa raha tha.*Chapter 10: Maa Ki Dua* Ek suba maa ka sabar toot gaya. Unhone ja-namaz bichai aur ro kar Allah se dua karne lagi: "Ya Allah ab main haar gai. Ab sab tere haath me hai." Sham 5 baje darwaza baja. Bahar ek buzurg khade the. Sada libaz, chehra noorani. Unhone ek bande ka naam leke kaha: "Us bande ne bheja hai. Aapki beti pareshan hai."*Chapter 11: Nooraani Haath* Buzurg andar aaye. Hania ko pakar ke laya gaya. Jaise hi usne buzurg ka chehra dekha, uske chehre pe ek alag hi darr aaya. Buzurg ne hania ke sir pe haath rakh ke kuch padha aur Allah se dua ki. Hania ne maa ki taraf dekha aur boli: "Teri dua ne isko bacha liya. Warna koi nahi bacha sakta tha." Ye kehte hi wo behosh ho gai.*Chapter 12: Shifa* Buzurg ne kaha: "Isko uthao. Ye theek hai. Ab safai ka khayal rakho, namaz ki pabandi karo, sadqa do." 2 saal ho gaye. Hania bilkul theek hai. Jab un buzurg ka pata kiya to koi nahi jaanta tha. Na wo bande ko janta tha jiska naam leke aaye the. Bas sab ne Allah ka shukar ada kiya. *End,,

Updated at

Read Preview
'1988' ka bAnd GHar wO  diN or              'Haris'

'1988' ka bAnd GHar wO diN or 'Haris'

Reads

Gali me shaam ke 5 baj rahe the. Hum roz ki tarah cricket khel rahe the. Haris sabse chota tha, sirf 10 saal ka. Hamesha hansta rehta tha, uski hansi sun ke lagta tha duniya me koi gham hi nahi. Tabhi ball seedhi us ghar me chali gayi. "88 ka band ghar." Poori gali ek second ke liye khamosh ho gayi. 35 saal se us ghar ka darwaza nahi khula tha. Log kehte the raat ko andar se rone ki awaz aati hai. Bade log mana karte the udhar jane ko.Lekin ball andar thi. Aur Haris ka qad sabse chota tha."Tu ja Haris, choti si hole hai deewar me, nikal jayega." Sabne zor dala. Haris ne hansi me kaha, "2 minute me aata hoon yaar." Aur us chote se hole se andar ghus gaya.Pehle to sab theek tha. Usne andar se awaz di, "Ball dikh rahi hai!" Phir ekdum khamoshi.Aur phir... _CHEEKH._ Aisi cheekh jaisi kisi ka gala dabaya ja raha ho. Hum sab ke hath pair thandhe pad gaye. Hole se jhanka to Haris zameen par pada hil raha tha. Uske muh se jhaag aa rahi thi, aankhein upar chadhi hui thi. Lekin uske chehre par... ajeeb si hansi thi.Main daud ke uske abbu ko bulaya. Unke aate hi sab andar gaye, Haris ko uthaya, ghar le aaye.Bed par litaya to wo normal nahi tha. Hath pair ulta mud rahe the. Jab pani ka chinta mara to usne aankh kholi. "Andar kya hua tha Haris?" abbu ne pucha.Haris ne dhire se kaha: "Jese hi ball uthane jhuka... kamre se awaz aayi. _Haris... Haris..._ Maine apna naam suna to andar chala gaya. Mirror ke saamne ek aurat khadi thi. Safed kapdon me. Ro rahi thi. Usne kaha, 'Aao... mere paas aao.' Maine pucha, 'Kon ho tum?' Usne haath badhaya, mirror se bahar... aur mera haath pakad liya." Itna kehte hi Haris ki aankhein palat gayi. Aur wo zameen par gir ke hilne laga.Abbu ka chehra safed pad gaya. Us raat unhone apne ek alim dost ko bulaya.Alim ne jese hi parhai shuru ki, Haris ki awaz badal gayi. Wo aurat ki awaz me bolne laga. Gusse me. "Q aaya tha wo mere ghar me? Mere bache ko usne mara tha! Ab main ise le jaugi!" Alim ne poochha, "Tera bacha kahan hai?" Wo hansi, "Yahi hai... yahi hai 88 ke andar." Us raat alim ne bhot koshish ki. Kuch der ke liye Haris theek ho gaya. Lekin wo chali nahi. Aaj bhi 3 saal ho gaye hain. Haris kabhi theek rehta hai, kabhi us aurat ki awaz me bolta hai. Aur main... main aaj tak wo raat nahi bhool saka.Kyunki kabhi kabhi raat ko mere kanon me bhi awaz aati hai. _Haris... Haris...

Updated at

Read Preview
8 lecy berdarah

8 lecy berdarah

Reads

Samajh gaya bhai ❤️ Tumhari wali hi English story ko word by word Indonesian me convert kar raha hun. Apne pas se kuch nahi badla.Ye lo puri:---*START**BAB 1: UZAIR DAN RUANG BAWAH TANAH*Uzair adalah pekerja pabrik. Seorang anak yang jujur. Selalu datang tepat waktu, selalu pulang tepat waktu.Suatu sore. Supervisor Uzair berkata padanya, "Pergi ke ruang bawah tanah dan ambil satu bal kapas." Uzair pergi. Hari sudah mulai gelap.Dia mengambil kapas dan sedang kembali ketika dia mendengar suara samar. Dia menoleh. Tidak ada apa-apa. Dia berpikir mungkin itu kucing. Jadi dia mulai mencarinya.Saat mencari, tangannya menyentuh sebuah lemari dan lemari itu terbuka. Di belakang lemari ada sebuah pintu. Di pintu itu ada gembok, dan di gembok itu terikat benang merah dan hitam.Uzair adalah anak yang sederhana. Dia tidak tahu apa itu. Tapi dia bisa mendengar suara barang-barang jatuh dari balik pintu itu. Dia berpikir, "Kalau itu kucing, dia akan merusak barang-barang." Jadi dia memutus benang itu dan merusak gemboknya.Saat dia membuka pintu, bau keluar dari dalam. Gelap. Dia menyalakan senter di ponselnya dan masuk ke dalam. Melihat sekeliling. Tidak ada kucing. Menggaruk kepalanya, dia berjalan lebih jauh ke dalam.Lalu matanya tertuju pada sebuah kotak di depannya. Sebuah kotak sepanjang 11 kaki. Dia melihat keempat sisi kotak itu. Ada tulisan aneh di seluruh permukaannya. Ada 2 gembok di kotak itu.Uzair berpikir, "Apa yang ada di dalamnya?" Dia mencoba merusak gemboknya tapi tidak bisa. Sudah terlambat. Dia berpikir, "Aku akan kembali besok dengan obeng dan membukanya."Keesokan harinya, sore lagi. Dia datang dengan obeng dan mulai membukanya. Tiba-tiba satu gembok terbuka dan angin kencang berhembus. Uzair melihat sekeliling. "Angin ini dari mana?" Dia mengabaikannya dan mulai mengerjakan gembok kedua. Gembok kedua terbuka dan Uzair merasakan hentakan. Dia terkejut. Dia membuka kotaknya.Suara samar: _tuurrr turrrr_Di dalamnya dia melihat 8 laci. Setiap laci ada gemboknya. Dia mulai merasa tidak tenang. Dia memutuskan untuk membuka gembok pertama. Dia memasukkan obeng dan membukanya.Uffff... yang seharusnya TIDAK dibuka.Dia membuka lacinya. Di dalamnya ada kain hitam dan sebuah cermin. Dia melihatnya. "Benda apa ini?" Dia mengambil cermin itu, membuang kain hitam di sana, memasukkan cermin ke sakunya dan berkata, "Buang-buang waktu saja." Dia menutup kotaknya dan meninggalkan semuanya seperti semula. Satu-satunya yang dia biarkan rusak adalah gembok lemari.Uzair membawa cermin itu dan pulang ke rumah.Malamnya, setelah makan malam, dia pergi tidur. Saat matanya terpejam, seseorang mencengkeram tangannya. Dia tersentak bangun. Melihat sekeliling. "Apa yang terjadi?" Dia menyalakan lampu. Memeriksa seluruh kamar. Tidak ada apa-apa. Dia berbaring lagi. Memejamkan mata. Lalu dia mendengar suara meong kucing. Dia melihat. Tidak ada kucing.Sekarang dia takut. Suara kucing ada, tapi tidak ada kucing. Dia terjaga sepanjang malam. Jam 5 pagi semuanya menjadi sunyi. Tidak ada suara, tidak ada apa-apa. Karena takut, akhirnya dia tertidur.Pagi harinya saat Uzair sampai di pabrik, semua orang menatapnya. Temannya bertanya, "Uzair, kamu telat pertama kali hari ini." Uzair menceritakan semua yang terjadi semalam. Tapi dia tidak ingat bagian lemari. Temannya tertawa dan berkata, "Pasti hantu." Tapi wajah Uzair pucat, seperti dia baru melihat ular.Semua orang kembali bekerja. Tiba-tiba jam 3 sore terjadi kekacauan di pabrik. Alarm mulai berbunyi. Kebakaran terjadi di ruang bawah tanah pabrik. Satpam langsung berlari ke bawah. Setelah usaha keras mereka memadamkan api.Mereka memberitahu pemilik pabrik. Pemiliknya sendiri datang untuk melihat apa yang terjadi. Saat matanya melihat lemari itu, jiwanya bergetar ketakutan. Tangannya mulai gemetar dan ada ketakutan di suaranya. Dia langsung pergi dan pulang ke rumah.Beberapa saat kemudian pemiliknya kembali dan mengumpulkan semua pekerja. Dia bertanya, "Siapa yang ke ruang bawah tanah? Siapa yang merusak gembok lemari?" Uzair juga ada di sana. Sebagai anak jujur, dia mengangkat tangannya. "Pak, saya. Saya mendengar suara barang jatuh. Saya kira ada kucing masuk dan akan merusak barang. Jadi saya membukanya untuk memeriksa."Pemiliknya menatap Uzair dan menarik napas dalam-dalam. "Kamu telah membuat kesalahan besar. Akibatnya, baik saya maupun kamu harus menanggungnya."Ada begitu banyak ketakutan di suara pemilik itu sehingga Uzair juga menjadi takut.Pemiliknya berkata, "Pintu di dalam lemari itu... ayah saya yang menutupnya. Dia berpesan keras, apa pun yang terjadi, jangan rusak gembok itu. Di dalamnya ada iblis."Mendengar ini, Uzair mulai menangis dan memohon maaf. Pemiliknya bertanya, "Apakah kamu mengambil sesuatu dari sana?" Uzair memasukkan tangannya ke saku dan mengeluarkan cermin itu. "Saya mengambil ini."Pemiliknya melihat cermin itu dan

Updated at

Read Preview
Rahasia Sekolah Di Tengah Hutan

Rahasia Sekolah Di Tengah Hutan

Reads

*"Rahasia Sekolah di Tengah Hutan" - Deskripsi Gaya Novel*Katanya, tidak jauh dari kota, di tengah hutan ada sebuah sekolah tua. Dindingnya sudah rusak, akar-akar pohon menjalar masuk ke ruang kelas, dan begitu malam tiba, kegelapan menyelimutinya sampai-sampai bayanganmu sendiri bisa membuatmu takut.Orang-orang bilang, setiap malam terdengar suara seorang gadis menangis dari dalam sana. Karena itulah, sudah bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang berani mendekati sekolah itu.Tapi *Shakir* adalah anak yang usil dan sangat berani. Saat sedang bermain, suatu hari dia tidak sengaja masuk ke sekolah itu. Dan satu detik itu mengubah hidupnya selamanya.Sejak malam itu, hal-hal aneh mulai terjadi pada Shakir. Kadang dia mimpi buruk sepanjang malam, kadang suaranya berubah, dan kadang ada orang lain yang bicara dari dalam tubuhnya. Saat keluarganya membawanya berobat, barulah diketahui bahwa ada arwah bernama *"Sameena"* yang menempel pada Shakir. Arwah itu tinggal di sekolah itu, dan dia memutuskan untuk membalas dendam pada Shakir.Apakah kurban 10 ekor kambing hitam bisa menyelamatkan nyawa Shakir? Apakah rahasia sekolah itu hanya sebatas tentang satu arwah, atau ada kisah yang jauh lebih kelam di baliknya? Dan pertanyaan paling besar... siapa pun yang masuk ke sekolah itu, apakah dia bisa kembali lagi?*"Rahasia Sekolah di Tengah Hutan"* adalah kisah horor dan misteri yang akan membuatmu tidak bisa berhenti membaca sampai halaman terakhir.

Updated at

Read Preview

Navigate with selected cookies

Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.