Reads
Keberanian Lisa mengambil keputusan untuk merantau setelah selesai kuliah didukung sang ayah. Keberangkatannya ke pulau yang dijuluki salah satu paru-paru dunia itu di dibekali dengan niat membantu meringankan beban kedua orangtuanya. Hingga hari dia berangkat, ia kembali memandang wajah pria yang dengan tenang mempersiapkan barang-barangnya menuju bandara. Iya,wajah sang kekasih yang belum satu bulan menjadi kekasihnya,kini harus menjalani hubungan jarak jauh. Rasa resah yang terbersit,tidak mengurungkan niat Lisa untuk tetap berangkat. ini bukan kali pertamanya merantau bukan? Memang ini sedikit lebih jauh dan merantau untuk bekerja, Lisa kembali menguatkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Lisa percaya perlindungan Tuhan,restu orangtua,dukungan dari kekasihnya, semesta yang menjaganya adalah kekuatannya untuk melangkah lebih jauh dari zona nyamannya saat ini. Keyakinannya bahwa semua baik-baik saja ia simpulkan dari pengalaman hidup yang sudah dia lewati, tentang kesetiaan ,kejujuran hingga penghianatan yang sudah dia terima. ..... Suasana sekolah hari itu sangat ceria. Hari itu adalah hari pertama Lisa masuk di SMP yang ada di desanya. Lisa sebenarnya ingin bersekolah di kota,namun karena memikirkan kedua orangtuanya,ia memutuskan untuk bersekolah di desa saja. Saat lulus SD guru-guru di sekolahnya memotivasi Lisa untuk masuk salah satu SMP favorit di kota karena kemampuan akademisnya cukup untuk bersekolah disana,namun setelah mempertimbangkan kondisi kedua orangtua,Lisa mengurungkan niatnya. Bukan karena kedua orangtuanya tidak mampu,tapi Lisa saat itu memiliki tiga orang adik,sehingga dia berpikir bahwa dengan bersekolah di desa dia bisa membantu kedua orangtuanya mengurus rumah dan adik-adiknya. Sebagai anak perempuan pertama,Lisa dididik untuk lebih cepat mandiri dan mampu mengurus urusan rumah. Lisa bersemangat di hari pertamanya di SMP, dia senang karena beberapa teman SDnya juga bersekolah di sana. Setelah apel pagi yang merupakan proses penerimaan siswa baru juga selesai, para siswa baru langsung dibagi menjadi dua kelas dan akan menjalani proses orientasi yang saat itu disebut MOS (Masa Orientasi Siswa). Proses MOS dijalani para siswa dengan baik,hingga mereka mulai menjalani proses belajar rutin. Lisa yang baru saja melepas masa SD tentu saja hanya fokus pada belajar,pulang rumah membantu mengurus rumah dan adik-adiknya,mengerjakan PR. Di rumah Lisa, orangtuannya memiliki beberapa hewan ternak yang tentu saja harus dirawat. Lisa sudah terbiasa mengambil bagian merawat hewan ternak itu sejak SD. Rutinitas itulah yang membuat Lisa tidak terpapar dengan romansa 'cinta monyet' di masa sekolah. Lisa masih jauh dari itu hingga suatu hari di sekolahnya ada siswa baru yang merupakan kakak kelasnya. Saat apel pagi yang menjadi rutinitas sekolah tiap hari, Lisa diberitahu temannya kalau di sekolah mereka ada siswa baru dan keduanya tampan. Lisa hanya mengangguk sambil mencuri-curi pandang ke arah barisan kakak kelas yang diberitahu temannya itu. Keduanya adalah kakak beradik namun satu angkatan yaitu kelas dua SMP. Hingga kepala sekolah meminta keduanya memperkenalkan diri ,saat itulah Lisa bisa melihat jelas wajah kedua kakak kelas barunya itu. Dia setuju dengan pendapat temannya itu bahwa keduanya tampan. Di hari itulah Lisa pertama kali merasa tertarik dengan lawan jenis dan dia tersenyum saat dengan bebas bisa memandang wajah kedua kakak kelas itu dari barisan siswa. Sejak saat itu, hari-hari Lisa di sekolah tambah berwarna, seperti ada rasa bahagia saat mengikuti apel pagi,karena saat itulah dia bisa mencuri-curi pandang ke salah satu kakak kelas yang menarik perhatiannya. Karena jika waktu istirahat, Lisa lebih banyak menghabiskan waktu bercengkrama dengan teman sebangkunya dan teman kelasnya. Di sekolah mereka tidak ada kantin,jadi tidak ada kegiatan mengunjungi kantin . Kegiatan istirahat yang sering dilakukan para siswa adalah membaca mading, bermain di halaman sekolah atau sekedar bercerita di dalam kelas sambil bertukar kertas binder. Hingga suatu hari saat Lisa sedang bercerita dengan temannya di kelas,dia dihampiri oleh teman angkatannya namun beda kelas,lalu menyerahkan sebuah amplop berisi surat pada Lisa. Lisa bertanya surat dari siapa,temannya hanya menyuruhnya membaca saja toh nanti dia tahu dari siapa suratnya. Meskipun bingung,Lisa menerima surat pertama dalam hidupnya itu dengan penuh rasa penasaran. Teman yang mengantar itu juga adalah tetangganya, saat selesai mengantar surat dia sempat mengatakan bahwa ternyata selama ini Lisa punya pengagum rahasia. Lisa sedikit terkejut, karena baru juga dia mendengar istilah itu. Dia segera memasukkan surat itu kedalam tasnya. Teman sebangkunya juga ikut penasaran hingga mereka berdua hanya tertawa karena merasa lucu dengan pengalam pertama itu. Hingga selesai pelajaran hari itu, Lisa tidak membuka suratnya sama sekali,dia berjanji akan memberitahu temannya esok jika dia selesai membacanya di rumah. Siapakah yang mengirim?
Updated at
Reads
Cinta tak memandang usia. Cinta yang tumbuh di usia yang sudah matang bukan kesalahan, hanya saja pada siapa ia jatuh cinta. Adrian berkali-kali menyangkal perasaan ini, namun semakin lama rasa itu tumbuh semakin subur . Nayla masih di kelas dua SMP saat itu. Adrian yang menjadi guru fisika di tempat Nayla bersekolah menyadari perasaannya terhadap gadis itu. Meskipun orangtuanya telah menjodohkan pada beberapa wanita. Adrian tidak menemukan kecocokan dari perjodohan itu. Apakah ia menunggu gadis kecil itu? . Apakah ia mendapat jawaban dari keteguhan hatinya menunggu? Kisah cinta yang terjalin akan membawa kita pada makna kesetiaan, pada cinta yang telah memilih sendiri pada siapa ia akan datang.
Updated at
Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.