SUAMIKU, PENGIDAP GANGGUAN MENTAL
Share:

SUAMIKU, PENGIDAP GANGGUAN MENTAL

READING AGE 18+

ryanalexa Romance

3117 reads

3rd STORY of SANG PEMENANG HATI The Series.

#1: TAKDIR KEDUA - Dirga & Andien
#2: A DEFENDER - Ian & Meta
#3: SUAMIKU, PENGIDAP GANGGUAN METAL - Borne & Debby
#4: KURETAS DANA PERUSAHAAN MANTAN KEKASIHKU - Ditya & Nadine
#5: CINTA BEDA KASTA - Edo & Hannah

Ditipu mentah-mentah oleh kekasihnya. Membuat Debby menjalani liburan tanpa rencana untuk membuang jauh kekecewaannya. Bertemu dengan Borne jauh dari rencana Debby.

"Lo percaya kebetulan itu ada? Ga ada Non! Yang ada itu takdir. Ya terserah lo sih mau nyebut itu takdir atau salah satu di antara kita terobsesi dengan yang lainnya."

"What? In your head, ashole!"

"Lampiasin aja ke gue, Deb! Gue ga perduli lo jadiin samsak."

"Lo pikir gue ga tau? I know! I really really really know! Lo emang ga pernah perduli sama gue. Emang ga ada yang peduli sama gue. Lo juga b******n! b******n! Ujung-ujungnya lo cuma akan nipu gue!"

"Jadi lo mau apa? Lo mau gue pergi? Bilang sama gue lo mau gue pergi! Bilang Deb! Bilang! Munafik!"

Borne dengan lidah entengnya. Hanya akan mengatakan hal-hal jujur tanpa berfikir untuk menyaringnya. Anehnya, sifat Borne yang terkesan tak perduli justru membuat Debby nyaman. Ia tak perlu menutupi siapa dan bagaimana dirinya.

Hanya masalahnya, Borne tak percaya dengan wanita. Inner child yang menyatu dengan dirinya membuatnya memiliki pribadi yang begitu kelam.

Dua insan yang saling jatuh cinta, tetapi terhantui ketidak percayaan akan adanya hubungan yang bisa berakhir bahagia. Sebuah cerita bagaimana cinta bisa memperbaiki hati yang hancur.

Cover details;
Made by: Canva
Pict: Korean Drama Fan Art Illustration by roby_art from pixabay
Font: Loubag Semibold

Unfold

Tags: sexarrogantsweethumorouscityfirst lovevirginengineerbrothersstubborn
Latest Updated
66: UNTIL MY LAST BREATH

Borne membatu di depan pintu ruang operasi. Kondisi Debby yang tak sadarkan diri setelah terjatuh dari tangga tadi membutuhkan operasi darurat sesegera mungkin. Kedua tangan Borne masih saja bergetar, tatapannya kosong, dan kedua netranya terus mengalirkan air mata dalam sunyi. Sudah berkali-kali Dirga dan Max mengajaknya duduk, tetapi Borne ……

Comment

    Navigate with selected cookies

    Dear Reader, we use the permissions associated with cookies to keep our website running smoothly and to provide you with personalized content that better meets your needs and ensure the best reading experience. At any time, you can change your permissions for the cookie settings below.

    If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.